SOP IB SAPI

STANDART OPERASI PROSEDURAL INSEMINASI SAPI

  1. Petugas Inseminator berkoordinasi dengan pamong ternak di desa/kelurahan untuk persiapan dan kesiapan peternak beserta akseptor dan fasilitasi kandang jepit serta penentuan waktu seleksi akseptor dan menulis laporan hasil pemeriksaan kebuntingan, serta interpretasi keadaan organ reproduksi.
  2. Petugas ATR (Ahli Teknik Reproduksi) melakukan pemeriksaan akseptor untuk tujuan mendapatkan calon betina penerima program IB (hanya ternak sapi dewasa yang tidak bunting dan atau tidak gangrep (GANGGUAN REPRODUKSI) diberikan tindakan penyuntikan hormone penggertak birahi) dan dibuat laporan hasil pemeriksaan kebuntingan dan tanggal pemberian hormone tersebut. Untuk diagnose bunting ternak tidak diberikan hormone.
  3. Inseminator melaukan tindakan inseminasi buatan saat akseptor mengalami birahi setelah penyuntikan hormone ataupun informasi birahi alam dari peternak ditindaklanjuti dengan kegiatan IB. Perlu dianalisa kesesuaian antara postur akseptor dengan bakalan bibit straw yang dipilih agar tidak terjadinya distokia (kesulitan beranak). Tindakan IB perlu direcording meliputi kode bull dan tanggal pemberian IB.
  4. Para petugas inseminator wajib melakukan pengecekan gejala birahi 18-21 hari post IB untu menandai keberhasilan pelaksanaan IB. Untuk IB hanya boleh diulang sebanyak 2 kali. Selebihnya ditetapkan status Gangguan Reproduksi untuk kemudian ditangani secara medic kesehatan hewan.
  5. Petugas PKB melakukan pemeriksaan kebuntingan pada akseptor yang telah dikawin IB  minimal saat usia kebuntingan telah mencapai usia 60 hari.
  6. Untuk akseptor yang Skor Kondisi Tubuh (SKT) dibawah 2 agar diberikan penambahan vitamin dan tidak dianjurkan untuk dikawin IB kecuali saat kondisi SKT sudah diatas 2.
  7. Melakukan komunikasi aktif dengan petani apabila terjadi persoalan-persoalan di saat ternak IB bunting hingga lahir, khusus lahir hendaknya petugas melakukan pengontrolan agar dapat memberikan bantuan manakala terjadi distokia dan apabila tetap menemui kesulitan yang tidak bisa ditangani agar berkomunikasi dengan dokter hewan.
  8. Petugas inseminator membuat laporan bulanan dan dikirim ke seksi perbibitan ternak kabupaten Nagekeo setiap akhir bulan, dan mempelajari hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan IB oleh pejabat perbibitan ternak.
  9. Petugas inseminator wajib melakukan pelaporan kegiatan pendaftaran ternak, Pemeriksaan Kebuntingan, pemberian hormone, pelaksanaan IB, dan kelahiran secara online melalui data ISIKHNAS.
  10. Para inseminator wajib mengontrol keadaan N2 cair dan straw di masing-masing konteiner untuk menjaga kestabilan daya hidup straw dengan batas minimal ketinggian N2 cair dalam konteiner adalah 12cm dan perlu ditindaklanjuti dengan melakukan penambahan cairan N2 kedalam konteiner tersebut.
  11. Straw sisa kegiatan IB perlu disimpan secara baik.
  12. Dalam melakukan kegiatan IB harus mematuhi langkah-langkah penanganan straw dengan baik seperti mengambil IB dari konteiner depo dan dipindahkan ke konteiner lapangan dalam kondisi tetap dingin dan segera (selalu menggunakan N2 cair secara optimal).
  13. Saat thawing (pengenceran semen dalam straw) digunakan air biasa dan dilakukan selama 15-30 detik diikuti pemasangan straw pada gun dengan benar, ujung straw yang diklem digunting rata. Gun diselimuti dengan plastic seet untuk menjaga ujung gun tidak melukai organ reproduksi, perlu diingat plastic seet hanya untuk sekali pakai dan dibuang sebagaimana perlakuan sampah medis.
  14. Melakukan deposisi semen tepat didepan cincin keempat cervix dan berhati-hati agar ujung gun tidak melukai bifurcasio corpus uterus, tindakan pemasangan straw, memasukan gun dan deposisi semen diupayakan agar tidak lebih dari 5 menit, kecermatan yang tinggi dan ketepatan waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan IB selain ketepatan pengamatan waktu puncak birahi.